Informasi

Tujuan-tujuan yang Tidak Berkaitan dengan Pembuatan Reklame

Sudah tidak asing lagi jika di sekitar kita terdapat berbagai macam iklan yang bertebaran di mana-mana. Mulai dari televisi, radio, hingga media sosial, iklan menjadi salah satu alat yang digunakan oleh para pengusaha untuk mempromosikan produknya. Namun, tahukah kamu bahwa ada beberapa hal yang bukan menjadi tujuan dari pembuatan iklan? Ya, iklan memiliki fungsi yang lebih kompleks daripada sekadar menjual produk. Oleh karena itu, dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa hal yang sebaiknya tidak menjadi tujuan pembuatan iklan.

Mengapa Perlu Diketahui: Berikut Ini Yang Bukan Merupakan Tujuan Dari Pembuatan Reklame

Apakah Anda pernah menonton iklan di televisi atau di internet yang membuat Anda merasa tertarik untuk membeli produk atau menggunakan jasa tertentu? Iklan adalah salah satu bentuk pemasaran yang digunakan oleh produsen dan penjual untuk mempromosikan produk atau jasa mereka kepada konsumen potensial. Namun, tidak semua tujuan pembuatan iklan bertujuan untuk meningkatkan penjualan atau keuntungan bagi sebuah perusahaan. Berikut ini adalah beberapa tujuan pembuatan iklan yang bukan bertujuan untuk meningkatkan penjualan produk atau jasa:

1. Mengubah Hukum atau Kebijakan Pemerintah

Salah satu tujuan pembuatan iklan adalah untuk memperjuangkan hak-hak atau kepentingan suatu komunitas atau kelompok tertentu. Namun, tidak semua tujuan perjuangan atau promosi itu dilegitimasi. Ada pula iklan yang bertujuan untuk mengubah hukum atau kebijakan pemerintah, meskipun hal ini tidak dalam kepentingan umum maupun legal.

2. Menyebarluaskan Propaganda

Iklan juga dapat digunakan sebagai cetak biru dalam menyebarluaskan propaganda. Propaganda adalah bentuk komunikasi penuh dengan penyebaran pesan yang menyesatkan dengan memanfaatkan teknik psikologis tertentu. Tujuan dari propaganda biasanya adalah untuk mempengaruhi opini publik atau mempengaruhi aksi sosial dan politik publik.

3. Menyebarkan Hoax atau Berita Bohong

Selain propaganda, iklan juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarluaskan berita bohong atau hoax. Hal ini akan merugikan konsumen potensial yang mempercayai klaim yang disampaikan dalam iklan tersebut dan akhirnya menimbulkan ketidakpuasan atau bahkan kerusakan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa kepercayaan konsumen merupakan aset penting bagi perusahaan dalam jangka panjang.

4. Menjual Produk atau Jasa dengan Cara Tidak Etis

Tujuan utama dari pembuatan iklan adalah untuk mempromosikan produk atau jasa agar dikenal oleh masyarakat umum. Namun, jika iklan tersebut menggunakan cara-cara yang tidak etis atau tidak sesuai dengan kode etik pemasaran, maka hal ini dapat merugikan konsumen dan pelanggan serta dapat merugikan citra perusahaan.

5. Menimbulkan Perpecahan Sosial

Selain kepentingan bisnis dan komersial, iklan juga dapat mempengaruhi aspek sosial dan politik. Ada beberapa iklan yang bertujuan untuk menimbulkan perpecahan atau lebih memecah belah masyarakat dalam hal tertentu tanpa memperhatikan kepentingan bersama.

6. Meningkatkan Citra Politik atau Individu

Iklan juga dapat dimanfaatkan sebagai media untuk meningkatkan citra seseorang atau kelompok tertentu dalam politik atau pemerintahan. Namun, hal ini dianggap tidak etis karena menggunakan iklan sebagai media publikasi yang seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk atau jasa tersebut.

7. Mencuri Data Pribadi Konsumen

Pada era digital saat ini, banyak iklan yang dibuat untuk mencuri data pribadi konsumen. Hal ini merupakan bentuk pelanggaran hukum yang dapat merugikan konsumen maupun perusahaan yang terlibat.

8. Melanggar Hak Cipta atau Kekayaan Intelektual Orang Lain

Tujuan pembuatan iklan seharusnya bukan untuk melanggar hak cipta dan hak kekayaan intelektual orang lain. Namun, hal ini masih sering terjadi di Indonesia, dimana banyak perusahaan atau individu yang mencuri karya orang lain untuk digunakan sebagai material iklan.

9. Menimbulkan Diskriminasi atau Kekerasan Terhadap Kelompok Minoritas

Ada juga iklan yang sengaja menggunakan unsur-unsur diskriminasi atau kekerasan terhadap menjadi daya tarik iklan. Hal ini akan merugikan kelompok minoritas yang mudah menjadi korban atau mendapat diskriminasi dan dapat memicu tindakan rasial di masyarakat.

10. Mengajarkan Nilai-Nilai Negatif

Tujuan terakhir dari pembuatan iklan yang seharusnya tidak dilakukan adalah mengajarkan nilai-nilai negatif kepada masyarakat. Hal ini dapat merusak moralitas masyarakat dan berpotensi memberikan pengaruh negative keberlangsungan hubungan sosial di dalam suatu negara.

Itulah 10 tujuan pembuatan iklan yang bukan bertujuan untuk meningkatkan penjualan atau keuntungan, namun sebaliknya. Dalam menjalankan bisnis, setiap perusahaan harus lebih beretika dan bertanggung jawab dalam menggunakan iklan sebagai media pemasaran. Sebagai konsumen, kita juga harus lebih kritis dalam menyikapi setiap iklan yang ditawarkan agar tidak terjebak dalam jebakan iklan yang tidak sehat.

Menimbulkan Ketakutan pada Konsumen

Pembuatan iklan tidak diperkenankan untuk menimbulkan ketakutan pada konsumen. Artinya, iklan tidak boleh menampilkan gambar, narasi, atau musik yang menciptakan situasi menakutkan yang mungkin menimbulkan trauma pada konsumen. Kriteria ini sangat penting untuk dijaga, apalagi jika produk yang diiklankan merupakan produk yang berbau keamanan dan keselamatan, seperti peralatan listrik atau produk kesehatan.

Berikut beberapa contoh iklan yang menimbulkan rasa takut pada konsumen:

  • Sebuah iklan rokok menampilkan seorang rokeman yang sedang bernyanyi, lalu ia tiba-tiba jatuh pingsan dan tewas. Iklan ini menciptakan kesan bahwa merokok bisa menyebabkan kematian.
  • Sebuah iklan mobil menampilkan mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi di sekitar pemandangan yang indah. Tiba-tiba, mobil tersebut mengalami kecelakaan dan terbakar. Iklan ini menunjukkan bahwa mobil tersebut tidak aman.
  • Sebuah iklan minuman energi menampilkan seseorang yang mengkonsumsinya lalu berubah menjadi monster tak terkendali yang merusak segala sesuatu di sekitarnya. Iklan ini menciptakan kesan bahwa minuman tersebut bisa membuat orang kehilangan kendali.

Para pengiklan harus memiliki etika yang baik dalam menciptakan sebuah iklan dan memikirkan dampaknya bagi konsumen. Jika iklan menimbulkan rasa takut pada konsumen, maka hal tersebut akan berdampak buruk pada citra merek dan bisa merusak kepercayaan konsumen terhadap produk atau layanan yang ditawarkan. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk memeriksa dengan hati-hati dan menyesuaikan setiap iklan dengan pesan yang ingin disampaikan pada audiens tanpa menimbulkan ketakutan atau trauma pada mereka.

Penipuan Adalah Bukan Tujuan Pembuatan Reklame

Penipuan adalah kejahatan yang dilarang oleh hukum. Namun, beberapa perusahaan atau individu yang membuat iklan sering melibatkan praktik penipuan dalam iklannya untuk menarik perhatian calon konsumen mereka. Tindakan seperti ini merugikan konsumen dan merusak reputasi perusahaan tersebut. Tidak hanya itu, praktik penipuan juga memperburuk kondisi pasar karena mendorong persaingan yang tidak sehat dan membuat orang kehilangan kepercayaan pada iklan dan periklanan.

Jenis-Jenis Penipuan dalam Iklan
  • Penipuan Kesehatan: Iklan yang menjanjikan kesembuhan penyakit dengan alat atau obat-obatan tertentu yang belum terbukti efektifitasnya.
  • Penipuan Keuangan: Iklan yang menjanjikan penghasilan besar tanpa harus melakukan sesuatu atau ikut dalam sistem pengembangan perusahaan.
  • Penipuan Kontes: Iklan yang menjanjikan hadiah yang bermacam-macam tetapi tidak pernah benar-benar diberikan.
  • Penipuan Pekerjaan: Iklan yang menjanjikan sebuah pekerjaan yang tidak pernah ia berikan atau pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan deskripsinya.

Maka dari itu, sebagai penghasil iklan, penting untuk menempatkan kejujuran dan moralitas di atas segalanya. Iklan yang dibuat harus transparan dan memberikan informasi yang benar agar calon konsumen dapat membuat keputusan yang tepat. Kredibilitas dan reputasi perusahaan dalam jangka panjang lebih penting daripada mendapatkan keuntungan sekarang yang didapat melalui praktik penipuan.

Tidak Menyebarkan Isu SARA dalam Iklan

Salah satu hal yang harus dihindari ketika melakukan kampanye pemasaran melalui media iklan adalah menyebarkan isu SARA atau Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam hal ini iklan. Hal ini harus dihindari karena isu SARA dapat memperkeruh suasana negatif di masyarakat dan melanggar hak asasi manusia. Selain itu, isu SARA juga dapat menjadi penyebab konflik yang dapat merusak perdamaian dan keharmonisan masyarakat Indonesia.

Contoh Isu SARA yang Kerap Disebarluaskan dalam Iklan
  • Menuai Angin Pahit, TIFATUL Terjerumus dengan Narkoba
  • Dalam Kepemimpinan Gubernur, Ternyata Kenaikkan Harga Beras dan Harga Gas serta Banyak Pengangguran
  • Ayam-ayam impor terus diloloskan masuk Indonesia, akan mengancam peternak ayam dalam negeri
  • Usir Orang Asing, Selamatkan Indonesia dari Kepunahan

Dalam hal ini, para pengiklan harus menghindari pembuatan iklan yang menyebarkan isu SARA. Sebaiknya iklan fokus pada produk atau jasa yang ditawarkan dan tidak mengeluarkan pernyataan yang berpotensi memicu sentimen SARA atau menyebarkan kebencian di kalangan masyarakat.

Bukan untuk Membuat Orang Terganggu

Banyak orang merasa terganggu saat menonton suatu tayangan televisi, mendengar iklan radio, atau melihat iklan digital di platform online. Sebuah iklan yang memberikan efek gangguan seperti suara yang terlalu keras atau durasi yang terlalu lama dapat membuat audiens yang seharusnya menjadi target iklan menjadi jengkel atau tertekan. Oleh karena itu, menghindari efek ini sangat penting bagi para pengiklan.

Contoh iklan yang membuat orang terganggu:
  • Iklan yang terdengar terlalu keras, sehingga memotong tayangan televisi atau radio yang sedang ditonton dan mendengarkan.
  • Iklan yang menciptakan suara bising yang membuat penonton terganggu
  • Iklan dengan durasi yang terlalu panjang dan mengulang-ulang
  • Iklan yang tidak relevan dengan konten tayangan yang sedang ditonton

Ketika menghasilkan iklan, para pengiklan harus memastikan agar iklan yang dihasilkan tidak memberikan efek gangguan bagi audiens. Mengingat inti dari iklan adalah untuk menarik minat calon konsumen, maka iklan yang terlalu mengganggu tersebut dapat menimbulkan efek sebaliknya yaitu menyingkirkan pelanggan potensial.

Tidak Membuat Iklan yang Menyesatkan

Iklan yang menyesatkan bisa saja muncul secara tidak sengaja. Namun, ia bisa sangat berbahaya ketika hal itu disengaja dilakukan untuk tujuan tertentu. Iklan yang menyesatkan dapat merugikan konsumen, jika cenderung menghasilkan informasi yang salah atau menyampaikan pengertian salah tentang produk tertentu. Secara hukum, pembuatan iklan yang menyesatkan dapat dikenai sanksi hukum serius atau mengalami kerusakan reputasi yang parah.

Hal yang membuat iklan menjadi menyesatkan
  • Membandingkan produk yang tidak sebanding
  • Mengabaikan keterangan yang penting dan berpotensi merugikan konsumen
  • Iklan yang menjanjikan sesuatu hal yang tidak mungkin dilakukan
  • Iklan dengan menggunakan testimoni palsu

Para pengiklan harus memastikan bahwa semua informasi dalam iklan itu benar dan tidak menyesatkan. Mereka juga harus memastikan bahwa setiap keterbatasan atau kelemahan produk secara jujur disampaikan dan harus menghindari penggunaan testimoni yang tidak jujur yang hanya dilakukan untuk keuntungan dari perusahaan.

Reklame yang dibuat seharusnya memiliki tujuan jelas dan tidak menyesatkan audience, seperti yang dijelaskan dalam artikel tersebut.

Terima Kasih Sudah Membaca Artikel Ini

Itulah beberapa hal yang bukan menjadi tujuan utama dalam pembuatan iklan. Kita harus memahami bahwa iklan seharusnya memberikan manfaat dalam memberikan informasi atau penawaran produk yang berguna bagi konsumen. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kamu yang ingin tahu lebih banyak tentang dunia periklanan. Jangan lupa untuk terus mengikuti kami di situs ini untuk mendapatkan informasi menarik lainnya. Terima kasih dan sampai jumpa lagi!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button